Kerja Keras Adalah Energi Kita: Gasified Petroleum Condensate (GPC)—Pendongkrak Devisa Negara dan Alternatif Bahan Bakar Masa Depan
GPC merupakan salah satu produk inovasi Pertamina dalam rangka diversifikasi energi untuk mengantisipasi kelangkaan minyak bumi yang dapat dipakai sebagai bahan bakar seperti ELPIJI. GPC dikembangkan oleh Divisi Gas Domestik Pertamina yang juga mengembangkan LGV (Liquefied Gas for Vehicle). GPC dikembangkan oleh Penelitian dan Laboratorium Pengolahan PT Pertamina (Persero) bekerja sama dengan Daerah Operasi Hulu Sumatera Bagian Selatan (DOH SBS) sejak tahun 2003. Kondensat ini merupakan produk sampingan gas—hasil kondensasi dari gas hidrokarbon (berbentuk cair) sebesar 10% - 20%—yang dihasilkan dari sumur-sumur pemboran Pertamina di Hulu, dari proses kilang, dan dari LNG Plant. Sifatnya mudah menguap sehingga dalam penyimpanannya dapat menimbulkan losses. Hal inilah yang mendasari adanya potensi kondensat tersebut untuk dijadikan bahan bakar alternatif. Apabila kondensat tersebut tercampur dengan kondensat yang dipakai dalam proses pengolahan di kilang, kondensat tersebut akan mengurangi nilai keekonomisan proses di kilang. Oleh karena itu, selain menekan losses, pemanfaatan kondensat tersebut juga dapat meningkatkan efisiensi operasi kilang.
GPC yang mulai diperkenalkan oleh Pertamina pada 22 Maret 2005 juga tergolong hemat energi karena dapat digunakan non stop selama delapan jam per kilogramnya. Jadi, untuk satu tabung GPC tiga kilogram dapat digunakan non stop 24 jam. GPC dapat menghasilkan panas yang tinggi hingga 10.000 sampai dengan 12.000 kal/gram. Nilai tersebut lebih tinggi jika dibandingkan dengan minyak tanah yang hanya 9.900 kal/gram. GPC juga dapat menghemat devisa negara hingga 100 juta dolar AS per tahun jika dimanfaatkan secara maksimal dengan rincian jika nilai impor minyak mentah sebanyak 30 MBCD diasumsikan sebesar USD54 per barel dan harga kondensat sama dengan USD44 per barel maka terdapat selisih keuntungan sebesar USD10 per barel dan dalam waktu satu tahun dapat mencapai sekitar USD100 juta atau sekitar 1 Triliyun.
GPC yang tergolong bahan bakar ramah lingkungan, bersih, praktis, dan ekonomis ini juga dapat digunakan untuk pemakaian rumah tangga; pedagang makanan seperti nasi goreng, martabak, gorengan, dan lain-lain; serta untuk bahan bakar industri. Untuk memasarkan GPC ini tentunya diperlukan infrastruktur khusus seperti program pemasaran ELPIJI—konversi minyak tanah ke ELPIJI—yang juga membutuhkan infrastruktur berupa ELPIJI Storage Terminal dan Stasiun Pengisian Bahan Bakar ELPIJI (SPBE). Oleh karena itu, Pertamina masih terus mengkaji dan mengembangkan produk ini baik dari segi permintaan dan penawaran maupun harga jual.
Menurut saya GPC merupakan alternatif strategis selain ELPIJI untuk digunakan sebagai bahan bakar pengganti minyak tanah dan juga sebagai bahan bakar substitusi ELPIJI jika terjadi penurunan produksi ELPIJI. Oleh karena itu, GPC akan dapat turut mendukung program konversi dari bahan bakar minyak tanah ke bahan bakar gas. Apalagi harga GPC diprediksikan akan berada pada kisaran antara harga minyak tanah subsidi dan harga ELPIJI. Untuk mempercepat proses pengembangan produk dan pemasaran GPC ini Pertamina dapat bermitra dengan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) di wilayah penghasil kondensat.
Dengan slogan Kerja Keras Adalah Energi Kita, Pertamina terus berinovasi dan melakukan perbaikan yang berkelanjutan terus menerus untuk mengembangkan produknya agar dapat memberikan manfaat semaksimal mungkin baik bagi perusahaan maupun bagi bangsa Indonesia. Hadirnya GPC juga membuktikan bahwa Pertamina terus berusaha untuk memberikan pelayanan yang terbaik untuk pelanggan dan memberikan dukungan terbaik bagi pemerintah Indonesia, masyarakat, dan lingkungan demi mewujudkan kehidupan masyarakat Indonesia yang berkualitas. Semoga program GPC dapat terealisasi secepat mungkin untuk mendukung suksesnya program konversi minyak tanah ke LPG dan juga untuk mendongkrak devisa negara demi pemulihan kondisi ekonomi bangsa. Oleh karena itu, kita juga harus turut mensukseskan program ini dengan mulai beralih dari minyak tanah ke gas baik ELPIJI dan atau GPC baik untuk pemakaian rumah tangga, berdagang, maupun industri. Dengan kerja keras kita semua tentunya akan menghasilkan energi yang lebih besar untuk kemajuan yang lebih baik dalam rangka menurunkan ketergantungan akan minyak tanah karena Kerja Keras Adalah Energi Kita.
When we do the best that we can, we never know what miracle is wrought in our life, or in the life of another. (Helen Keller)
Referensi:
http://www.pertamina.com/index.php?option=com_content&task=view&id=3195&Itemid=668
http://www.pertamina.com/index.php?option=com_content&task=view&id=2264&Itemid=593
http://www.pertamina.com/index.php?option=com_content&task=view&id=2470&Itemid=593
http://berita.liputan6.com/ekbis/200503/98131/class=%27vidico%27
http://library.pelangi.or.id/?pilih=arsip&topik=7&nid=236
Image:
http://thefraserdomain.typepad.com/energy/fischertropsch_processes_btlctlgtl/
http://berita.liputan6.com/ekbis/200503/98131/class=%27vidico%27
http://indonesiasejahtera.wordpress.com/2007/10/31/gasified-petroleum-condensate-gpc-sebagai-bahan-bakar-alternatif/
Tuesday, January 05, 2010
|
Labels:
campur-campur
|
|
Bookmark this post:
|
|















0 comments:
Post a Comment